Jumat, 27 November 2015

Untuk apa sombong?

Tak sedikit orang yang bangga dengan apa yang mereka miliki. Entah itu harta, jabatan, pekerjaan hingga pasangan. Tak sadarkah mereka bahwa semua yang mereka miliki adalah titipan Allah yang suatu saat nanti akan Allah ambil kembali.

Rasa bangga yang mereka miliki juga tak jarang berubah menjadi rasa sombong. Karena mereka merasa hebat dengan apa yang mereka miliki. Juga cenderung meremehkan orang lain karena tidak sehebat seperti mereka. Dalam riwayat muslim dijelaskan bahwa sombong itu sendiri adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia”(Riwayat Muslim)

Terkadang disadari atau tidak, kita sombong dengan apa yang telah Allah beri. Meskipun kita tidak memiliki niatan untuk sombong, tapi berhati-hatilah, karena bisa jadi perbuatan dan tingkah laku kita mengisyaratkan kita untuk sombong.

Ada orang yang sombong dengan pekerjaan yang dilakoninya, mereka merasa bahwa pekerjaannya adalah pekerjaan yang paling baik, baik dari segi penghasilan ataupun manfaat. Perlu diketahui, bahwa dimata Allah pekerjaan apapun adalah mulia selama pekerjaan yang dilakoni mampu membuat kita semakin bertaqwa kepada Allah. Bukan dari banyaknya harta ataupun tingginya jabatan.

Adapula org yang sombong dan bangga dengan harta yang mereka miliki. Padahal harta adalah titipan juga. Harta tidak akan bertambah jika hanya di simpan, tapi dengan sedekah InshaAllah harta akan menjadi penuh berkah. Seharusnya kita belajar dari kisah qorun yang begitu sombong juga tamak dengan harta yang ia miliki. Hingga akhirnya hartanya habis karena Allah menenggelamkan qorun bersama dengan hartanya karena kekikiran yang ia miliki.

Lantas apa yang akan kita sombongkan jika itu semua hanya titipan? Perhatikan firman Allah dibawah ini yang artinya : "Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang kamu sombongkan ternyata tidak ada manfaatnya bagimu." Al-a'raf:48. Begitu jelas bahwa Allah berfirman harta yang kita kumpulkan sebanyak apapun takkan bermanfaat jika kita sombong. Berbeda halnya jika kita mampu memanfaatkan harta dengan baik, dan bermanfaat untuk orang banyak.

Berdoalah kepada Allah, semoga kita termasuk orang-orang yang pandai mensyukuri apa yang telah Allah beri dan tidak iri dengan apa yang orang lain miliki.
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan Engkau dari tiap-tiap perbuatan yang menjatuhkan nama baiknya. Dan aku berlindung dengan Engkau dari tiap-tiap teman yang menganggapnya begitu. Dan aku berlindung dengan Engkau dari tiap-tiap cita-cita yang menjadikan lupa daratan. Dan aku berlindung dengan Engkau dan tiap-tiap kekurangan yang menggelapkan mata dan aku berlindung dengan Engkau dari tiap-tiap kemewahan yang lupa pada keadilan.

Rabu, 11 November 2015

"Aku" yang Terlupakan

Seiring berjalannya waktu, kau kini telah berubah.
Kau mulai menjauhi aku, bahkan menyentuhpun engkau tak mau.
Ada apa denganmu? Kenapa kau enggan menyentuhku?
Kau biarkan aku sendiri, tanpa ada yang menemani.
Sekarang kau begitu sibuk dengan mainanmu yang baru.
Kau begitu sibuk hingga kau lupa waktu.

Apakah aku membosankan?
Ataukah kau sudah bosan?
Apa yang hendak kau cari? Apa yang kau inginkan?
Tak cukupkah semua jawabanku atas semua rasa penasaran mu?

Terkadang aku iri dengan apa yang kau miliki sekarang.
Setiap hari, bahkan setiap waktu kau luangkan waktu untuknya?
Tapi untukku? Sepertinya waktumu sudah tak ada. Kau biarkan aku diam ditempat yang jauh.
Kau biarkan aku sendiri. Bahkan kau biarkan aku berdebu.

Saat kau masih kecil, aku adalah sahabatmu yang senantiasa kau bawa pergi kemana-mana. Bahkan setiap waktu kau selalu menyentuhku. Hingga setiap lembaran yang ada menjadi sobek karena sering kau pakai dan kau hafal.

Aku tak apa, aku sedikitpun tak merasa sakit, meskipun robek. karena kau selalu menyentuhku, menghafal isi yang ada padaku, hingga mengamalkan apa yang Dia perintahkan.

Tapi sekarang aku sedih. Secara fisik aku memang utuh, bahkan tak ada cacat sedikitpun. Tapi aku sedih, karena itu berarti aku tidak pernah kau sentuh, aku tidak pernah kau perhatikan. Bahkan sepertinya melirikpun engkau enggan.

Tapi ketahuilah, aku senantiasa ada untukmu ketika kau membutuhkan ku. Ketika kau mulai bingung dengan semua masalah yang menimpamu. Ketika kau mulai bingung dengan jawaban hidupmu, ketika kau mulai jenuh dengan duniamu, bahkan aku bisa menjadi pelipur laramu. Aku bisa menjadi temanmu yang mampu mebuatmu tenang dan aku bisa menjadi petunjukmu untuk menjalani hidup.

Kembalilah. Lihatlah aku. Sentuhlah aku walau sejenak. Baca kembali apa yang ada padaku. Jadikanlah aku sahabatmu seperti dulu ketika kau masih kecil. Jadikanlah aku teman hidupmu agar kau tenang. Jadikanlah aku petunjukmu agar kau tak resah. Kembalilah padaku sebelum terlambat.

Salam rindu dari sahabatmu. "Aku" yang terlupakan (Al-Quran).

Jumat, 09 Oktober 2015

Terlarut dalam Pujian

Tak jarang, banyak orang yang bahagia dan begitu senang ketika dipuji. Siapa yang tidak senang ketika dirinya disebut cantik, ganteng, pintar, baik, sholeh dan sebagainya.
Banyak orang yang terlena dengan pujian yang diberikan orang lain atau bahkan atas kelebihan yang dia miliki hingga banyak orang yang berdecak kagum padanya. Padahal apa yang kita miliki adalah titipan dan amanah dari Allah yang harus kita jaga dengan baik.

Jika kita mendapat pujian dari orang lain, kembalikan lagi pujian itu kepada Allah, ucapkan Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah tuhan semesta alam. Jangan sampai kita terlarut dalam pujian yang bisa membuat kita terperosok hingga kita lupa diri dan merasa diri paling hebat dari yang lainnya. Ingatlah Allah, mungkin saja pujian itu diberikan kepada kita sebagai bentuk ujian atas apa yang kita miliki. Apakah kita mampu menjaga amanahnya. Ataukah kita malah sombong dengan apa yang dimiliki.

Tak jarang juga banyak orang yang berlomba-lomba untuk terlihat sempurna oleh manusia. Mereka lupa bahwa kesempurnaan itu hanyalah milik Allah ta'ala. Tak sadarkah kita bahwa berharap kepada manusia hanya akan menimbulkan luka? karena mereka tak selamanya akan memuja.

Ingatlah Pujian dan Ujian itu hanya berbeda 1huruf, jika saja pujian itu dihilangkan huruf awalnya maka bisa jadi ujian. 

Ibnu ‘Ajibah mengatakan, “Janganlah engkau tertipu dengan pujian orang lain yang menghampirimu. Sesungguhnya mereka yang memuji tidaklah mengetahui dirimu sendiri kecuali yang nampak saja bagi mereka. Sedangkan engkau sendiri yang mengetahui isi hatimu. Ada ulama yang mengatakan, “Barangsiapa yang begitu girang dengan pujian manusia, syaithon pun akan merasuk dalam hatinya.” (Lihat Iqozhul Himam Syarh Matn Al Hikam, Ibnu ‘Ajibah, hal. 159, Mawqi’ Al Qaroq, Asy Syamilah)

"barangsiapa yang memuji pimpinan atau seseorang dengan pujian yang sesungguhnya ada padanya, dihadapan orang-orang banyak, maka ia akan dibangkitkan oleh Allah pada hari kiamat dengan lidah tergelincir“.

Adapun doa yang kita ucapkan ketika kita dipuji adalah “ Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka. Wallahu a'lam

Kita hanyalah manusia yang tak pernah luput dari dosa dan hina. Sungguh kita tak ada apa-apanya dihadapan Allah. Apa yang hendak kita banggakan dihadapan manusia. Jika dalam sekejap Allah menghilangkan apa yang kita miliki, atau Allah memperlihatkan aib kita. Naudzubillah. Maka, ketika kita hendak mendapat pujian kembalikan pujian itu kepada Allah ta'ala.

Rabu, 19 Agustus 2015

Cita-cita Saya jadi Anak Sholeh

Materi pelajaran kali ini sudah pak Dadang sampaikan kepada anak-anak. Tapi jam pulang masih lama. Untuk mengisi waktu luang yang tersisa, pak Dadang mencoba para muridnya untuk mengatakan apa cita-cita yang mereka inginkan ketika sudah dewasa. Dengan penuh semangat murid-murid menyambutnya. Semuanya mengacungkan tangan dan saling berebut agar bisa maju kedepan.

Pak Dadang pun mulai menunjuk satu-persatu muridnya maju kedepan untuk memberitahu apa cita-cita mereka. Suasana kelas yang tadinya suntuk menjadi penuh semangat. Karena ternyata cita-cita mereka beragam. Ada yang bercita-cita jadi guru, dokter, pengusaha, orang kaya hingga jadi orang ganteng sekalipun. Jelas semua itu mengundang gelak tawa anak-anak.

Untuk yang terakhir pak Dadang memanggil Yusuf, atau yang lebih akrab disapa Ucup. Dia adalah seorang anak yang biasa saja. Ayahnya adalah seorang kuli di pasar. Sedangkan ibunya adalah seorang pedagang gorengan disekolahnya. Dalam hal pelajaran, ucup memang tidak terlalu menonjol, bahkan nilai tertinggi yang pernah diraih ucup hanya mentok di angka 7. Tapi dia adalah anak yang baik dan penurut.

Majulah ucup kedepan. Dengan penuh keluguan dia mulai memberitahu apa cita-citanya. "Cita-cita saya cuma satu, saya ingin menjadi anak sholeh."
Suasana kelas tiba-tiba hening, mendengar cita-cita ucup. Memang cita-citanya terdengar sangat sederhana, tapi mengandung makna yang luar biasa.
Pa Dadang datang menghampiri ucup dan bertanya " kenapa kamu mau jadi anak sholeh Cup?"

Dengan lantang ucup pun menjawab "Ucup ingin membawa Abah dan Ema ke surga. Bukankah dulu pa Guru pernah bilang sama ucup kalo anak sholeh itu bisa membawa orang tuanya ke surga? bahkan doa dari anak sholeh adalah amalan yang tidak akan terputus. Terus, setiap kali kita melakukan kebaikan, maka nilai kebaikan itu akan menjadi kebaikan untuk orang tua kita juga kan pak guru?"

Pa Dadang diam membisu, matanya dihiasi oleh bulir-bulir air mata karena terharu mendengar penjelasan ucup. Seorang anak biasa namun memiliki cita-cita yang begitu mulia. Namun tiba-tiba terdengar celetukan dari salah satu temannya yang berkata " eh cup, bagaimana orang tua kamu bisa masuk surga kalo mereka saja jarang solat, aku sering lewat ke tempat ibu kamu jualan, saat adzan berkumandang ibu kamu malah sibuk jualan sampe adzan ashar dan magrib tiba. Bapak kamu juga tak pernah aku lihat pergi ke mesjid. Mana bisa kamu ajak mereka ke surga".

Dengan santai ucup menjawab "Urusan ema yang mungkin lupa solat atau abah yang jarang pergi ke mesjid, itu adalah urusan mereka dengan Allah. Kewajiban ucup tetaplah berbakti kepada mereka, dengan cara ucup menjadi anak sholeh. Ucup sadar ucup tudak bisa membahagiakan mereka dengan prestasi, atau bahkan materi. Tapi ucup akan berusaha keras untuk memberikan mereka kebahagiaan kelak di surga. Karena mereka adalah malaikat dan bidadari yang Allah turunkan untuk menjadi perantara ucup lahir ke dunia. Urusan hati mutlak urusan Allah, tugas ucup sekarang adalah terus berdoa agar kedua orang tua ucup sehat juga bahagia dan selalu ada dalam kebaikan, serta tetap berada di jalan Allah."

Mendengar penjelasan itu, pak dadang memeluk ucup erat dengan tetesan air mata dan berbisik kepadanya "kamu sudah jadi anak sholeh nak, bapak bangga memiliki murid sepertimu".

Menurut Hadits Qudsi:   Allah SWT berfirman pada hari kiamat kepada anak-anak:  "Masuklah kalian ke dalam surga!"   Anak-anak itu berkata: "Ya Rabbi (kami menunggu) hingga ayah ibu kami masuk." Lalu mereka mendekati pintu syurga! tapi tidak mau masuk ke dalamnya. Allah berfirman lagi: "Mengapa, Aku lihat mereka enggan masuk? Masuklah kalian kedalam surga!" Mereka menjawab: "Tetapi (bagaimana) orang tua kami?" Allah pun berfirman: "Masuklah kalian ke dalam syurga bersama orang tua kalian." (Hadits Qudsi Riwayat Ahmad dari Syurahbil bin Syua�ah yang bersumber dari sahabat Nabi SAW)

Anak adalah titipan. Kelak d akhirat, setiap orang tua akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah. Tugas orang tua adalah mendidik anak. Berhasil atau tidak kita serahkan semua kepada Allah, yang terpenting kita sudah berusaha mendidik anak dengan sebaik mungkin.

Sabtu, 01 Agustus 2015

Selamat Ulang Tahun Mamah

Barakallah fii umrik....
Selamat ulang tahun mamah. Sukses dan sehat selalu. Semoga dengan  bertambahnya usia, bertambah pula amal kebaikannya. Semoga sisa umurnya menjadi penuh berkah barokah dan berlimpah. Mudah-mudahan Allah senantiasa menjaga mamah dalam kebaikan. Aamiin...

Alhamdulillah segala puji dan syukur kehadirat Allah, karena atas berkat dan rahmatnya lah mamah bisa sehat sampai saat ini. Seiring bertambahnya usia, tentu segudang harapan dan cita-cita pasti mamah ingin dapatkan. Mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan kemudahan dan kelancaran kepada mamah dalam menggapai cita-citanya.

Semoga setiap langkah yang kau tempuh selalu ada di jalanNya. Semoga rasa lelah yang kau rasa, berubah menjadi ibadah. Semoga semua kebaikan yang telah kau lakukan menjadi catatan amal baikmu kelak.

Mamah meskipun usia kami terus beranjak dewasa, tapi saat didepanmu kami tetaplah ingin menjadi anak-anak yang mendapatkan perhatianmu secara utuh. Meskipun kami telah dewasa, kami berharap kasih sayang yang kau berikan takkan memudar karena kami telah bersama pasangan kami. Bagi kami sumber kebahagian tetap ada padamu. Tetap ada pada ridhomu.

Maafkanlah kami mamah, jika sampai saat ini kami belum bisa membuatmu bahagia. Maafkan kami jika sampai saat ini kami sering membuatmu terluka. Maafkan kami yang tak mampu menerjemahkan kasih sayangmu dalam bentuk panggilan yang kami acuhkan,
Maafkan kami yang tak mampu menerjemahkan kasih sayangmu dalam bentuk perhatian yang kami abaikan,
Maafkan kami yang tak mampu menerjemahkan kasih sayangmu dalam bentuk tangisan yang kau teteskan.
Maafkan kami yang tak mampu menerjemahkan kasih sayangmu dalam bentuk do'a yang tak kami wujudkuan.
Maafkan kami mamah.

Mamah semoga kau akan tetap menjadi panutan kami. Karena kami yakin kau adalah orang pertama yang menjadi sekolah kami, kau adalah orang yang telah Allah percaya untuk menjadi ibu dari kami semua. Kau adalah orang yang mengemban amanah untuk mendidik kami semua. Mudah-mudahan Allah senantiasa membimbingmu untuk menjaga kami agar selalu tetap berada di jalan-Nya. Kini, Kami akan selalu berusaha sebaik mungkin untuk menjadi yang terbaik agar kelak kami semua bisa menjadi tabungan  amal shaleh untuk mamah dan bapa si surga nanti.

Kau adalah bidadari surga untuk kami semua. Tetaplah menjadi surga yang selalu kami rindukan kemanapun kami pergi. Karena buat kami, selalu berada didekatmu membuat kami tenang dan bahagia. Tetaplah menjadi ibu yang terbaik, yang kelak akan kami banggakan ketika kami bertemu Allah di surga nanti. Aamiin...

Salam cinta dan bakti untukmu dari kami anak-anakmu...

Kamis, 23 Juli 2015

Ketika Ramadhan Pergi

Setelah ramadhan pergi, akan kah kebaikan dibulan ramadhan terbawa dalam kehidupan sehari-hari seperti biasanya?

Itulah pertanyaan yang menggelayuti pikiranku selama ini. Ada perasaan sedih dan kehilangan ketika ramadhan pergi. Sedih karena kebersaam seperti yang terjadi saat ramadhan bersama keluarga mungkin akan jarang terjadi. Karena setelah ramadhan aktivitas akan kembali berjalan seperti biasa. Masing-masing anggota keluarga memiliki kesibukan masing-masing dengan urusannya. Bahkan makan bersama pun hanya terjadi dihari libur. Itupun semua anggota tidak bisa berkumpul bersama karena biasanya setiap orang sudah memiliki jadwal dan acara masing-masing ketika libur tiba.

Perasaan kehilanganpun semakin menjadi ketika ditinggalkan ramadhan. Kini mesjid kembali menjadi sepi. Jika saat ramadhan setiap subuh semua orang berlomba-lomba untuk mendatangi mesjid agar bisa mendapatkan tempat duduk yang paling depan dan didalam mesjid. Karena jika telat sedikit saja, ruangan didalam mesjid sudah penuh. Sehingga mau tak mau yang telat datang ke mesjid harus melaksanakan salat di madrasah atau diteras luar mesjid.

Seusai salat subuh suasana di mesjidpun semakin ramai dengan lantunan ayat suci al-quran dari anak-anak. Belum lagi sebleum dimulai acara pengajian ada kultum atau tausiyah yang diberikan oleh ustadz. Suasana pagi pun bertambah ceria dengan adanya pesantren kilat untuk mengisi waktu liburan anak-anak.

Tapi sayang, setelah ramadhan pergi keceriaan, keramaian dan kebahagiaan itu juga ikut pergi. Setelah ramadhan usai mesjid kembali sepi. Bahkan sekarang mesjid menjadi "luas", karena jumlah jemaah semakin berkurang. Belum lagi seusai salat subuh dengan cepat mesjid kembali bersih. Tak ada lantunan ayat suci tak ada lagi tausiyah dari ustadz tak ada lagi kegiatan pesantren kilat. Karena sekarang semua orang sudah kembali menjalankan aktifitasnya masing-masing.

Rasa sedih belum cukup sampai disana, jika sebelumnya hampir disetiap rumah selalu terdengar lantunan ayat suci al-quran. Maka sekarang lantunan ayat suci al-quran tak lagi terdengar. Bahkan sekarang suara music jauh lebih dominan ketimbang suara mengaji.

Jika dulu semua orang berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan. Maka sekarang banyak orang justru "berleha-leha" saat hendak menjalankan kebaikan. Jika dulu kebanyak orang berlomba untuk bersedekah. Buka puasa bareng anak yatim, berbagi dengan banyak memberi. Maka sekarang semua kebiasaan baik itu seolah-olah hilang begitu saja. Bersedekah alakadarnya dan berbagi seperlunya.

Saat ramadhan, semua orang dipastikan menahan emosinya dengan baik. Karena mereka takut jika mereka tak mampu menahan emosi maka pahala puasanya akan berkurang. Maka saat berpuasa mereka lebih bisa menahan emosi, ucapan dan hawa nafsu. Namun setelah ramadhan usai, semua itu kembali seperti semula. Jika sebelumnya sebagian orang bisa bersabar ketika emosi. Maka sekarang orang-orang kembali tempramen, bahkan tak jarang mereka juga mengeluarkan kata-kata kasar. Astagfirullah...

Ramadhan memang bulan penuh ampunan bulan dengan berlimpah keberkahan. Dan siapa saja yang melakukan kebaikan dibulan ramadhan maka pahalnya akan dilipatgandakan oleh Allah. Maka tak heran jika ramadhan dijadikan ajang untuk berlomba-lomba dalam kebaikan oleh banyak orang. Tapi sekarang ramadhan telah pergi. Entah, apakah ramadhan tahun depan kita masih bisa dipertemukan kembali? Akankah kita bisa lebih baik untuk menghadapi bulan ramadhan yang akan datang?

Meskipun ramadhan kini telah pergi, mudah-mudahan kita semua bisa kembali fitri dan suci. Bukan hanya sesaat, tapi seterusnya. Dan kita bisa membawa kebaikan yang kita lakukan dibulan ramadhan pada bulan-bulan selanjutnya. Aamiin...

Rabu, 22 Juli 2015

Ketika semua orang sibuk dengan Gadgetnya

Dulu manusia adalah mahluk sosial, tapi sekarang manusia adalah mahluk media sosial. Bagaimana tidak, hampir semua orang memiliki smart phone. Mulai dari yang murah, hingga yang mahal sekalipun. Mulai dari yang hi-tech hingga low-tech. Bahkan masing-masing smartphone menawarkan fitur fitur terbaik yang mereka miliki. Mereka menawarkan berbagai macam kelebihan yang mereka miliki.


Sayangnya kecanggihan yang dimiliki oleh smartphone ternyata membuat kebanyakan orang tak mampu bijak dalam penggunaanya. Banyak orang yang terjebak dengan kecanggihan yang dimiliki oleh samrtphone. Mereka terjebak dalam dunia maya yang hanya sesaat. Dengan berkembangnya jaman. Aplikasi media sosial pun semakin banyak. Mulai dari media sosial yang berisi kicauan belaka, curhat, upload foto hingga check-in ketika hendak bepergian.


Semua orang kini mulai sibuk dengan media sosial yang mereka miliki. Mereka tak lagi memikirkan lingkungan sekitarnya, karena mereka terlalu sibuk dengan gadget yang mereka genggam. Bahkan mereka patuh pada gadgetnya masing-masing. Ketika gadgetnya berbunyi dengan sigap dan dengan cepat mereka menghampiri gadgetnya. Bahkan mereka pun tertunduk saat menggemgam gadgetnya. tak jarang mereka juga mengabaikan panggilan dari orang-orang terdekatnya dan yang lebih parah lagi mereka juga mengabaikan panggilan Allah untuk beribadah. Naudzubillah...


Demam media sosial juga bukan hanya untuk kalangan muda saja. Sekarang, mulai dari anak-anak hingga orang tua juga sibuk dengan media sosial masing masing.
Kini, meskipun kumpul bersama, masing-masing orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Judulnya memang berkumpul bersama, tetapi pada kenyataannya itu hanya status saja. Karena nyatanya ketika bersama, masing-masing orang malah sibuk berfoto ria hanya untuk di upload ke medsos, kemudian mereka menambahkan tulisan dalam fotonya 'indahnya kebersamaan". Padahal itu hanyalah status saja. Yang jauh berbeda dengan kenyataan.


Bukan hanya berkumpul, bahkan ketika makan bersama keluarga pun semua orang masih saja disibukkan dengan gadgetnya masing-masing. Mereka memang makan bersama tapi mereka hanya menikamatinya masing-masing. Bahkan mereka tidak mampu menikmati kebahagiaan dari kebersamaan yang mereka dapatkan.


Untuk teman-teman yang sedang berkumpul tapi malah asyik dengan gadgetnya masing-masing. Mengertilah bahwa sebenarnya momen kebersamaanlah yang kami inginkan. Kebersamaan yang bukan hanya status semata tapi itu berbentuk realita. Karena waktu kita berkumpul tidaklah lama dan tidaklah banyak. Maka dari itu kami meminta ketika kita semua berkumpul berhentilah memainkan gadget kalian. Mulailah berbicara dari hati dan menatap satu sama lain.


Untuk bu guru dan pak guru, kami sebagai murid hanya ingin mendapatkan perhatian dari kalian. Lihatlah kami disini yang senantiasa bersemangat untuk mendapatkan ilmu darimu. Ketika kau sibuk dengan gadgetmu. Kami merasa sedih. Karena meskipun kami belajar, namun kami tetap merasa hampa. Kami seperti belajar sendiri dan hanya diawasi oleh seseorang yang bahkan "tak peduli" dengan kami. Bu/pak kami disini benar-benar ingin belajar. Karena ketika kami dewasa nanti, kami harus belajar dan mencari sumber sendiri. Maka dari itu selagi kami masih anak-anak kami hanya ingin mendapatkan ilmu langsung darimu. Bukan hanya dari buku. Meskipun kami tau kau mulai kesal dengan tingkah laku kami. Tapi percayalah, itulah yang membuat kami selalu merasa rindu kepada kalian wahai ibu dan bapa guru. Karena dengan perhatian, kasih sayang dan teguran kami akan lebih mudah mengerti dengan ilmu yang kalian sampaikan, dan itulah yang membuat kami selalu merindukan masa-masa kami di sekolah.


Untuk para orangtua, ayah/ibu kami sebagai anak-anakmu tentu ingin mendapatkan perhatian lebih dari kalian. Jujur saja terkadang kami merasa cemburu kepada gadget yang kalian miliki. Kalian begitu sayang kepada gadget kalian. Selalu dibawa kemanapun kalian pergi. Selalu mengisi waktu kalian yang kosong. Seandainya saja bisa, kami ingin menjadi gadget kalian yang selalu kalian genggam kemanapun kalian berada. Ketika kami bertanya kepada kalian, kalian masih saja sibuk dengan gadget yang kalian miliki. Kami tidak hanya ingin di dengarkan. Tapi kami juga ingin diperhatikan. Inilah kesempatan kami, selagi kami masih muda kami ingin menghabiskan waktu bersama kalian. Bukan hanya dalam status bersama. Tapi kami benar-benar ingin bersamamu. Bercerita, bercengkrama dan tertawa bahagia bersama-sama. Suatu saat nanti, ketika kami telah memiliki pasangan. Mungkin kami tidak bisa lagi bercerita kepada kalian ayah/ibu. Karena mungkin kami akan lebih banyak bercerita dan berbagi kisah dengan pasangan hidup kami masing-masing.
Dengarkan kami dan lihatlah kami. Sekarang yang kami inginkan bukan fasilitas yang kalian berikah. Tapi yang kam iginkan adalah perhatian dan kasih sayang kalian.


Untuk para tenaga kesehatan kami sangat menyayangi kalian. Ketika kami datang kepada kalian kami ingin menceritakan keluhan yang kami rasakan. Meskipun keluhan kami banyak. Tapi dengan respon dan perhatian yang kalian berikan membuat kami cukup senang sudah meluapkan semua keluhan kami. Kami sadar mungkin kalian lelah setelah bekerja seharian, dan kami tau bahwa pekerjaan kalian membutuhkan konsentrasi yang tinggi agar tidak terjadi kesalahan. Maka dari itu cobalah dengarkan keluhan kami sejenak. Meskipun kami tau, bahwa kami teekadang membuat kalian jengkel dan kesal. Tapi dengan respon yang hangat daei kalian. Kalian sungguh membantu kami dengan meringankan beban yang kami miliki.


Teknologi yang canggih. Gadget yang memiliki fitur yang bagus membuat kita memang lebih mudah menjalin komunikasi, namun tak jarang membuat kita lupa waktu dan kondisi di sekeliling kita. Bijaklah menyikapi kemajuan teknologi yang ada. Jadikan itu semua sebagai alat untuk mendapatkan banyak kemaslahatan bukan kemudharatan.